• Beranda
  • Artists / Bands
  • Event
  • Program
  • Tutorial
  • Contact Us

Popular

  • Geliga Band Usung Malay World Jazz
  • Jazz Paramount Insigh
  • Malacca Strait Jazz Festival 2008
  • Taukah anda tentang Musik Jazz
  • Mencecap Jazz Segala Rasa

Latest News

  • KOLEGIUM MUSIKUM: UNIMED
  • TRIO DINGO
  • Geliga; BERHANYUT DI ATAS SUNGAI TRADISI
  • Eye 2 eye
  • Kenapa Malacca Strait Jazz?
Home Eksistensi

Main Menu

  • Beranda
  • Artists / Bands
  • Event
  • Program
  • Tutorial
  • Galeri
  • Contact Us

Interaktif

  • Buku Tamu
  • Forum
  • Member

Login Form



  • Lupa kata sandi anda?
  • Lupa nama pengguna anda?
  • Daftar

Clocks on Web

Get Adobe Flash Player

Events Calendar

« < September 2010 > »
S M T W T F S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2

Statistics

Anggota : 122
Isi : 24
Links Situs : 6
Content View Hits : 7554
Eksistensi PDF Cetak Email
Ditulis oleh Ryan   
Minggu, 17 Januari 2010 14:34

Agustus 2003, saya diberi sebuah kaset yang berisi beberapa komposisi dari seorang yang biasa saya panggil bang eri-kenal ketika saya masih bermain di sebuah pub di Pekanbaru bebrapa tahun sebelumnya- seorang keyboardis yang waktu itu seingat saya juga masih sering main di pub-pub kota Pekanbaru. Namun ketika kaset itu saya putar di rumah, saya terperangah, beatnya menghentak, nuansa melayu yang kental, namun chord-nya kok bukan chord yang umum ya?Kasut Baru, Ayahanda, Nun Jauh, Ya Zapiin Ya Samrah, adalah judul-judul lagu (instrumental) yang asing di telinga,

namun menyita perhatian dan rasa penasaran. Saya harus bertanya sana sini  arti judul-judul lagu tersebut (kalau chord-nya saya tanya ke komposer tentunya, ha.. ha..). Di Bulan itu juga, kami 'dipaksa' memainkan komposisi tersebut dalam helat yang disebut Kenduri Seni Melayu di Batam, dengan bintang tamu jazz pianis Idang Rasyidi dan guitaris Agam Hamzah... Sebuah pengalaman pertama yang membanggakan. Dalam hati saya langsung berujar, saya harus tetap memainkan musik seperti ini. karena saya yakini tidak ada musik dengan warna seperti ini di belahan Bumi lain, dimanapun...

Januari 2010, saya menulis artikel ini di studio milik Geliga, dimana saya dan bang eri masih bersama, setelah perjalanan yang tentu saja tidak lurus dilalui... telah 2 album dirilis, dan kini album ketiga sedang dimatangkan... Semakin lama kami bermain, semakin yakin bahwa eksistensi musik ini tiada akan berarti jika tidak memiliki konsistensi... Apa lagi setelah saya membaca tulisan pada t-shirt merchandise yang dijual oleh Warta Jazz (sebuah surat kabar jazz yang terbit secara on line) di ajang Bandung World Jazz bulan Noivember 2009 lalu, Geliga tertera berdampingan dengan grup-grup jazz Indonesia yang telah lebih dulu mapan seperti Krakatau, Simak Dialog, Trisam, Zaro, Balawan dll... Sebuah pengakuan eksistensi Geliga dengan Jazz melayunya bukan?

 

Drive Thru

  • Warta Jazz
  • Java Jazz Festival
  • Info Jazz
  • Dewan Kesenian Riau
  • Ninetynine Production
  • Geliga Jazz

Image Show

Polls

Musik Kesukaan Anda....!?
 

Web Board

Who's Online

Ada 19 tamu online

Copyright© 2010 Riaujazzturbulence.com All Rights Reserved.