Interaktif
Login Form
Statistics
Anggota : 122Isi : 24
Links Situs : 6
Content View Hits : 7553
| Kenapa Malacca Strait Jazz? |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator |
| Rabu, 20 Januari 2010 04:33 |
|
Selat Melaka merupakan “tapak ingatan dunia” [worlds plate of memory] tentang tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa Melayu. Bahwa selat Melaka menjadi semacam ‘tabung leher’ yang menghubungkan peradaban benua dunia yang berada di barat [occidental] dan peradaban dunia yang berada di sebelah timur [oriental]. Ketika menyebut selat Melaka, sekaligus orang bisa menitip segala nilai dan kenyataan romantik apakah itu purba, klasik, kekinian dan masa depan. Bahwa di selat ini terhidang pelayaran-pelayaran tersarat di dunia dalam bentuk perdagangan laluan maritim, sekaligus bertemunya peradaban-peradaban yang diangkut melalui pelayaran itu sendiri. Di atas kapal-kapal cruise [pesiar] yang mengusung inter-continental tourism yang tak mengenal batas, maka di sepanjang selat Melaka-lah tersedia titik-titik romantik perhentian seperti Langkawi, Penang, Belawan, Selangor, Melaka, Dumai, Johor Bahru, Singapura hingga Bintan dan Palembang. Inilah titik-titik pertumbuhan tamadun Melayu yang mempengaruhi warna dunia. Selat ini menjadi taman dan media yang subur bagi perkembangan peradaban Melayu di muka bumi.Selat Melaka, adalah wadah berhimpunnya air dengan kekuatan peradaban aquatic nya. Air menjadi anasir dominan yang mengisi bumi [70 persen]. Demikianlah peradaban, siapa yang bisa menaklukkan air, terutama gelombang [wave], maka dia lah yang menguasai dunia. Ingat adagium tua, Britain rule the wave, menjadi isnpirasi anak-anak Birtania menakluk dan melakukan perambahan ke sudut dan ceruk dunia. Demikianlah musik, juga harus menguasai gelombang; gelombang laut, gelombang cahaya, gelombang suara, gelombang bunyi. Riau harus bisa memanfaatkan keperkasaan jenis-jenis gelombang-gelombang itu yang tersedia dan terhidang di selat Melaka. Event Jazz yang gahara dan berlangsung dalam marwah yang terjulang di ranah Eropa, juga menggunakan tapak-tapak yang berdekatan dengan air laut. Akan di Belanda orang mengusung nama North Sea [laut utara] yang ditempel dengan diksi Jazz. Sehingga North Sea adalah mata hitam, sedangkan Jazz adalah mata putih, yang tak terpisahkan dalam korpus manusia modern di kontinental Eropa. Demikian pula Java Jazz juga mengambil tapak ingatan sempena nama laut tempat kawasan romantik peradaban Jawa terbangun meranggi, sehingga mereka menyebutkan dengan sangat familiar, menjadi Java Jazz. Begitu pula JakJazz diambil sempena nama bandar besar yang bertengger di tepi tebing sebuah laut yang bergelora [laut Jawa]. Begitulah nama Malacca Strait Jazz diambil, bertolak dari kesadaran perjalanan peradaban yang menyeruak melalui keperkasaan selat yang dalam sejarah merupakan selat tersibuk kedua setelah selat Channel yang memisahkan Inggris dan Prancis. Kota-kota besar Melayu sejak dari Kuta Raja [Banda Aceh], Penang, Port Klang, Medan, Pekanbaru, Melaka, Johor Bahru, Singapura, Bintan-Batam, adalah kota-kota yang ’terberikan’ oleh inayah dan kaidah selat Melaka. Nama event jazz di Pekanbaru ini, adalah sebuah cara kota di Sumatera ini mengungkapkan terimakasihnya kepada selat yang menjadi laluan nurani dan peradaban Melayu di dunia. Sebuah kawasan yang bercita-cita mempertemu dan menggauli segala peradaban dan kebudayaan dunia. Di sini tersemai cita-cita masyarakat terbuka, masyarakat yang gairah dengan dialog, dan berkecenderungan membaharu [inovatif]. Dan dengan cara beginilah, orang Melayu, musik Melayu, tamadun Melayu menyapa dunia. Merangsang kembali ingatan orang tentang Pekanbaru, sebuah kota yang menggelegak dengan perkembangan musik, salah satunya jazz, yang juga sebuah tapak yang bakal ditabal sebagai kota jazz di selat Melaka. |
| Pemutakhiran Terakhir ( Rabu, 20 Januari 2010 04:35 ) |
Kenapa Malacca Strait Jazz?


