Interaktif
Login Form
Statistics
Anggota : 118Isi : 24
Links Situs : 6
Content View Hits : 7381
| Geliga; BERHANYUT DI ATAS SUNGAI TRADISI |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator |
| Rabu, 20 Januari 2010 04:38 |
|
Berhanyut di atas ‘sungai’ tradisi, dengan sampan yang lain, mungkin sebuah siasat yang menggoda. Sebuah cara yang juga diterima dalam sejarah manusia. Kehidupan yang begitu banyak segi dan sisi itu, tidak mesti dijalani, dilayari dan direnangi dengan pola-pola dan gaya biasa: Sebuah gaya yang merujuk pada ketentuan umum, kesepakatan awam, tatanan orang banyak. Seolah-olah ‘matahari kehidupan’ itu menyembul dan hanya bisa bersinar ketika kita merengkuh dayung dengan pola dayung umum, dengan pola ciau awam, dan dengan bentuk perahu orang banyak pula. Meniti hidup dan melayarinya dengan citarasa berfikir, citarasa bertindak yang lain, yang tidak dilakukan oleh awam, yang berlangsung dengan jalan-jalan alternatif, adalah kehidupan itu sendiri. Kalau di satu sisi orang mengatakan, bahwa ‘kami tengah menjalani kehidupan’, apakah orang-orang yang berseberangan laut dan gunung dengan dirinya, otomatis tidak sedang menjalani kehidupan? Kehidupan itu adalah sebuah semesta, sebuah keserempakan.Kaidah ‘semesta’ dan ‘keserempakan’ inilah yang menjadi nadi bagi GELIGA untuk melayari kehidupan dalam ‘jalan’ sepi musik alternatif di Riau. Orang menerjemah Melayu dengan caranya sendiri-sendiri, maka GELIGA menerjemah Melayu dengan citarasa ‘sungai tradisi’, tempat anak-anak Melayu berlari, berenang, menyelam, berlayar bahkan berjungkir balik dengan gaya-gaya yang otonom, tidak terikat oleh kaidah dan ketentuan awam. Alias, sungai sebagai ‘teks’ yang ‘terdedah’ dan ‘mendedah’ memberi peluang untuk didatangi dengan beragam cara dan kaidah. Oleh GELIGA, ‘sungai’ tradisi itu didatangi dengan Jazz. Kenapa Jazz? Hari ini hendak ditunjukkan kepada dunia, bahwa Melayu bisa menyapa dunia dengan Jazz, tidak semata dengan zapin, tidak dengan ghazal belaka, joget belaka, tidak samrah, masri, langgam sahaja. Bahwa sisi ruang dan semesta kehidupan ini sesungguhnya adalah ‘cara kita menyapa’. Ya, tergantung dari ‘cara kita menyapa’. Ketika aliran musik seperti zapin, ghazal, samrah, masri dan seterusnya yang nota bene pada awalnya adalah segulung gelombang aliran musik yang datang dari luar dunia Melayu, sehingga pada hari ini, kita telah merasa genre musik ini sebagai milik Melayu. Seterusnya, ketika Jazz yang juga nota bene bukanlah khazanah musik Melayu, kita hadirkan sebagai ‘sampan’ untuk melayari ‘sungai’ tradisi itu, seraya berlayar, mengaut dan menyedut, mengatur tempo, nada dan irama yang terselit pada samrah, zapin, joget, langgam, ghazal sehingga dia menjadi bunga yang lain di atas ‘sungai’ tradisi itu. ‘Perbuatan kebudayaan’ seperti inilah yang disetiai GELIGA sejak 2002. Bahwa kaidah tempat beralas dan merujuk, tidak lah terlalu berkilau, tetapi cukup dengan cara ‘menerkam’ kearifan-kearifan yang disediakan oleh ‘kesemestaan’ dan keserempakan’ [wholness and simultaneouss] sepanjang lentik dan lentur kehidupan Melayu. TENTANG GELIGAGeliga di dirikan di Pekanbaru pada tahun 2002. Didukung oleh sejumlah musisi dengan latar belakang dan pengalaman, kelompok ini mencoba berangkat dari keinginan untuk mengangkat khasanah musik Melayu dengan memasukkan unsur-unsur jazz menjadi salah satu pilihan dalam kelompok ini. Seiring dengan perjalanannya, Geliga telah melahirkan sebuah album yang berjudul Instrumental Musik Melayu. Album ini dibuat di Pekanbaru dan melewati proses Mixing di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, Geliga juga Tampil di sejumlah event, baik dalam maupun luar negeri. Adapun event-event yang pernah diikuti adalah: · Kota Bharu, Kelantan, Malaysia [2002] · Sayang Sayang Selat, Bengkalis [2002-2004] · Kenduri Seni Melayu, Batam [2003] · Festival Zapin Melayu, Bengkalis [2003] · Festival Hitam Putih I dan II, Pekanbaru [2003, 2005] · Gapena Kuala Lumpur, Malaysia [2004] · Pasar Seni, Pekanbaru [2004] · Festival Melayu Sedunia, Pekanbaru [2004] · STSI Padang Panjang, [2004] · AKMR, Pekanbaru [2004] · 10 Tahun Anugerah Sagang, Pekanbaru [2005] · Seasonist album Sawo Matang, Noraniza idris Malaysia [2004] · Malacca Strait Jazz, Malaysia [2006] - Banyak Bunyi Satu Bumi, Jakarta [2006] - Java Jazz International Festival, Maret 2007 Disamping itu, musik Geliga juga menjadi referensi pada Jurusan musik STSI Padang Panjang dan Jurusan Etnomusikologi Universitas Nommensen, Medan. Umumnya, lagu-lagu yang ditampilkan Geliga di dominasi oleh musik Melayu baik notasi maupun ritmenya. Namun, lagu-lagu itu kemudiancoba diusung dengan memasukan sentuhan Jazz yang memberi kemungkinan keleluasaan berimprovisasi. Saat ini, Selain tampil di sejumlah tempat di Pekanbaru, Riau, Geliga juga sedang menyiapkan album keduanya. |
| Pemutakhiran Terakhir ( Rabu, 20 Januari 2010 04:40 ) |


